Bab Fiqh Waktu Solat :Larangan Keras Meninggalkan Solat Dengan Sengaja

Bab Fiqh Waktu Solat :Larangan Keras Meninggalkan Solat Dengan Sengaja
Masjid Al Ilmi Sg Berembang
Kitab : Ensiklopedia Larangan Menurut Al-Quran dan As Sunnah
Kuliah Subuh
Blog : www.omaQ.org
Oleh :Ust. Mohd Umar Bin Ahmad (Abu Fawwaz)
21 Januari 2018 (Ahad) / 4 Jamadilawal 1439H

“Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan solat dan mengikut keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat (Maryam : 59)

“Maka celakalah orang yang solat, Iaitu orang-orang yang lalai terhadap solatnya, yang berbuat riak dan enggan (memberikan) bantuan.” (Al Maa’uun :4-7)

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillali r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Batas pemisah antara seorang hamba dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat’,” (HR Muslim)

Diriwayatkan dari Buraidah r.a, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir,” (HR Tirmidzi [2621], an-Nasa’i [1/231-232], Ibnu Majah [1079], Ahmad [V/346 dan 355], Ibnu Hibban [1454] dan al-Hakim [1/7]).

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Syaqiq r.a, ia berkata, “Menurut para Sahabat r.a, tidak ada amal yang membuat kafir orang yang meninggalkan amal itu selain shalat,” (Atsar shahih, HR Tirmidzi [2622], al-Hakim [1/7], Ibnu Nashr dalam Ta’zhiim Qadrish Shalaab Atsar shahih, dikeluarkan oleh Tirmidzi [2622], al-Hakim [1/7], Ibnu Nashr dalam Ta’zhiim Qadrish Shalaab [948] dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf [Xl/49]).

“Shalat lima waktu yang telah Allah wajibkan atas manusia, barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya karena meremehkannya, maka baginya perjanjian di sisi Allah, yakni Allah akan memasukkannya ke dalam Surga. Barangsiapa tidak mengerjakannya, maka tidak ada perjanjian baginya di sisi Allah. Jika mau, Allah akan mengadzabnya, dan jika mau, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Surga,” (HR Abu Dawud [1420], an-Nasa’i [I/230], Ibnu Majah [1401], Ahmad [V/315-316 dan 319], Malik [I/123], Abdurrazzaq [4575], Ibnu Abi Syaibah [II/296], ad-Dariini [I/370], al-Humaidi [388], al-Baghawi [977], IbnuHibban [2417], al-Baihaqi [/361], [II/8] dan [467], [X/2l7]).

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini sahih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209)

“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

www.omaQ.org | 0122959037 | LIVE MyKuliah @ FACEBOOK https://www.facebook.com/MrOmaQ

Share on Facebook

Leave a Comment